Senin, 02 Juni 2014

Nyamuk

Peringkat kedua dalam daftar sesuatu yang kubenci adalah nyamuk. Hewan bising ini berhasil menjadi runner-up setelah dibawahi hujan. Dari banyak aspek yang membuatku benci hewan mungil ini, alasan terbesar ialah: ia menyedot darahku. Tentu saja aku keberatan dengan hal ini, darah bagiku sesuatu yang kubutuhkan. Nyamuk itu begitu egois, dalam raganya padahal sudah diberikan sdemikian banyak darah untuknya tapi tetap saja memburu darah-darah manusia agar dia kenyang. Rupanya ia bersaingan dengan vampire menurutku. Bagaimana jika aku mulai menulis sebuah naskah film tentang vampire dan nyamuk? Mungkin bisa menjadi film box office yang ratingnya menjadi tertinggi, tapi bukan di negaraku. Negara ini lebih menyukai mengonsumsi sebuah tayangan yang memperlihatkan bagian tubuh wanita tapi masih bergenre horror katanya. Ah, vampire mungkin bisa menjadi bagian dari horror! Baiklah, setelah ini aku akan mencoba merangkainya menjadi suatu cerita. Tapi kuselesaikan yang ini dulu….
            Kuralat pernyataanku tadi, alasan terbesar mengapa aku sangat anti dengan hewan terbang ini adalah ia membuatku gatal. Ia juga meninggalkan bekas berupa titik merah dikulitku. Aku ingin tau nyamuk yang biasa menggigitku itu wanita atau pria, kalau pria mungkin aku bisa mewajarkannya. Pria otomatis akan menyukai wanita, berarti ia menyukaiku. Namun, kalau dia adalah seorang wanita –eh tidak pantas dengan sebutan wanita; betina saja – ia pasti iri denganku. Harusnya ada pengertian antar sesama yang berkromosom XX bahwa merawat tubuh itu penting (ya pasti jumlahnya berbeda, aku payah dalam pelajaran Biologi). Aku sudah mengocek tabungan untuk membeli hand body dan lulur yang bermerk agar tubuhku selalu terawat. Bintik merah pada kaki sangat mengganggu pemandangan, apalagi di sekitar lutut. Oh, sungguh itu adalah bagian kesukaan para nyamuk sepertinya. Kalau dilihat, seperti anak kecil yang tidak terawat saja, untungnya kulitku masih cerah.
            Takhanya bagian lutut ke bawah yang menjadi sasaran, nyamuk-nyamuk itu usil menggerayangi tubuhku. Tidak sedikit juga ia menggigit paha, perut, serta dadaku. Kurang ajar memang! Belum ada pria yang bisa menjamah tubuhku, tapi nyamuk-nyamuk genit itu sudah berhasil menyedot sedikit darahku ketika terlelap. Saat tidur, semua orang tidak sadar akan sesuatu yang menimpa dirinya, maka ketika si nyamuk sedang beraksi spontan tangan kita akan berusaha mengusiknya. Dengan kata lain, nyamuk ini menjadi pengadu domba untuk bagian tubuhkita, bahwa dengan tidak sengaja kita akan melukai tubuh kita sendiri dengan tamparan pada tubuh kita. Sistem syaraf kita toh tidak akan berhenti bekerja meskipun kita tertidur, bahkan si serangga tengil ini senantiasa membangunkan secara paksa dari tidur! Jelas ia hewan pengganggu! Harusnya mereka musnah!
            Ah, andaikata aku memiliki jurus ampuh untuk melawan sesuatu, tentulah yang akan kumusnahkan pertama kali adalah nyamuk! Ada suatu pertanyaan yang membenaki perasaanku: ada berapa banyak populasi nyamuk di bumi? Takperlulah di bumi, di Indonesia saja! Oh, Indonesia terlalu luas, populasi nyamuk di rumahku! Di kamarku! Apa perlu seminggu sekali rumahku di fogging?

0 komentar:

Posting Komentar

Reaksi

Labels

 
;