Jumat, 18 Januari 2013

Ketika Cinta Menyapa Part 2


Yogyakarta, 17  Januari 2013

        Setetes cinta yang tertawan Dan benih kasih yang tersipu. Berbalut asa dan doa. Cinta bukan hanya rangkaian dua hati bukan pula  pertautan dua jiwa. Namun ia adalah pertanggungjawaban. Hingga tibalah tiupan ruh Jadilah,... Maka jadilah kamu!

Adindaku terkasih,... ^_^

Tak ada yang pernah tahu apa yang akan terjadi di depan nanti. Bahkan ketika kedipan mata serta hembusan nafas yang keluar dari tubuh fana hilang dihisap oleh alam sekitar. Kita tak pernah tahu apakah masih ada kesempatan untuk sekali lagi mengedipkan mata. Bahkan kita tak bisa menjamin pada diri sendiri untuk sekedar bisa menarik nafas yang sama pada detik berikutnya, kecuali hanya dengan izin Sang Empunya hidup hingga Allah Subhaanahu wa ta'ala memberikan iradah-Nya. Dan sesungguhnya, takdir jualah yang telah menuntun kita dan mempertemukan kita hingga di titik ini. Maka begitulah yang telah terjadi di saat itu. Masa- masa di mana benih cinta kita akan dipersatukan dalam sebuah ikatan yang sakral, ikatan bentuk pengejawantahan cinta hakiki, yakni ikatan pernikahan. Hingga Allah Subhaanahu wa ta'ala pula yang telah menciptakan dan menumbuhkembangkan benih suci dari buah kasih itu bersama hujan cinta-Nya. Kemudian kau telah mengalami suatu masa disaat  semua menjaga serta merawatmu dari detik ke detik dalam pelukan rahim kasih sayang. Lalu waktu pun terus berlalu sampai tiba sebuah hari saat semua orang di sekeliling berharap-harap cemas saat menantikan kehadiranmu. Adindaku kini kau telah beranjak dewasa sama seperti diriku, Semoga pertemuan ini selalu menjadi nikmat bagiku dan berkah bagi kita semua.

Pagi ini tak seperti biasanya, kali ini langit menggambarkan mentari seakan ingin memuntahkan siluet-siluet cahaya, bertaburan menerangi alam ini yang telah lama tak merasakan hangat sinarnya. Tepat jarum jam tangan menunjukkan arah angka 08.00, Schedule mengikuti seminar Internasional tak kusia-siakan, tinimbang berdiam diri di kamar tak ada kerjaan, niatanku ba’da dzuhur nanti datang ke PKSI untuk menanyakan password Gerbang Wi-fi UIN yang aku lupa, karena tak pernah memakainya, tapi syukur semua terlewati begitu mudahnya, lewat telephone aku selesaikan masalah itu tanpa harus repot datang ke PKSI. Di  kampus aku berpapasan dengan temanku cewek yang bermobilitas tinggi, cukup perfect dalam bidang keilmuan, mungkin karena lebih sering baca buku, berita pun aktual tak pernah ketinggalan, satu hal yang diingat dia nge-fans berat sama Dekan FSH. Seiring berjalannya waktu, pagi pun berubah menjadi siang, tapi satu hal yang tak bisa dilupakan, kali ini langit tak lagi memancarkan cahaya kedamaian, kali ini langit mendung, awan pun tertutup oleh kabut yang memang sengaja menutupi dan enggan berpindah dari tempatnya. Suasana langit pun berubah, seakan memuntahkan percikan-percikan hujan yang tak mampu dibendung oleh benda apapun. Hujan pun turun tak terelakan lagi, tepat saat adzan sholat dzuhur berkumandang, akupun bergegas meninggalkan segala pekerjaan guna memenuhi panggilan suci, pangilan yang menggetarkan jiwa dalam dada, senantiasa memperbanyak do’a dan dzikir kepadanya, meminta semoga Adinda memang benar jodohku dan tak akan tertukar lagi, mengharap kita terikat dalam ikatan suci yang menggabungkan dua jiwa, mempertautkan dua hati dalam ikatan cinta sejati, bernama Pernikahan. Aku berharap tahun depan kau sudah siap, bukan karena mementingkan egoku, aku tetap ingin kau menjadi seorang Hafidzah dan tak akan kuhalangi niat tulusmu dalam menghafal Al-qur’an, Semoga kita tak pernah kehilangan kepercayaan dan komitmen dalam Long distance relationship ini ……. Aamiin.

0 komentar:

Posting Komentar

Reaksi

Labels

 
;