Rabu, 21 Mei 2014

Saatnya Memiiih Pemimpin Bangsa



Masih teringat jelas dalam ingatan kita saat deklarasi capres dan cawapres 2014. Banyak kemungkinan pasangan calon yang muncul pada saat  Pemilihan Legislatif April lalu. Muncul 4 (empat) partai besar yang diunggulkan pada quick account. Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDI-P) yang menduduki peringkat pertama saat pileg April lalu sukses menggandeng partai Nasdem, Partai Kebangkitan Bangsa, dan Partai HANURA serta telah mendeklarasikan pasangan calon yang diusung yakni Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla.
Jokowi yang dianggap sebagai vote getter karena kredibilitasnya yang tinggi dan ekspektasi rakyat kepadanya menjadikannya seperti dewa yang dielu-elukan eksistensinya. Bermodal gemar “blusukan” saat menjabat Gubernur DKI Jakarta membuat Ibu Megawati perlu mengingkari janji sucinya dan mengurungkan niatnya untuk mendukung Prabowo Subianto menjadi capres dari partai Gerindra. Serta memberikan mandat kepada Jokowi untuk menjadi capres dan mengusung “INDONESIA HEBAT” bersama Jusuf Kalla mantan wapres periode 2004-2009 terpilih dan kini kembali maju menjadi cawapres dari PDI-Perjuangan. JK yang juga menjadi ketua PMI (Palang Merah Indonesia) membuat gerakan merahnya PDI-Perjuangan seperti merahnya darah di PMI. J
Perang urat syaraf semakin menggebu, karena musuh terberat yang harus dihadapi Jokowi-JK adalah pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, dimana pasangan Prabowo-Hatta didukung mayoritas partai Islam yakni: Partai Amanat Nasional, Partai Keadilan Sejahtera, dan Partai Bulan Bintang, serta partai Golongan Karya (Golkar) yang menduduki peringkat kedua pileg April lalu menjadikan mereka lebih unggul secara hitungan prosentase.
Jokowi-JK dengan partai koalisinya mendapat sekitar 40% suara, sedangkan Prabowo-Hatta dengan partai koalisinya mendapat 48% suara. Meskipun Jokowi didukung mayoritas kaum Nasionalis dan kaum Jawa, serta Jusuf Kalla yang didukung kaum Nahdhiyyin dan  kaum wilayah Timur. Hal ini belum cukup untuk mendongkrak suara mereka dalam hitungan prosentase koalisi.
Sosok Prabowo yang dikenal tegas mengingatkan kita pada sosok Bung Karno, dengan mengusung “Indonesia Mandiri Berdikari” menjadikan pasangan Prabowo-Hatta seperti Soekarno-Hatta. Pengalaman Prabowo di kancah politik sudah tidak diragukan, pasangannya Hatta Rajasa adalah mantan Menteri Perekonomian.
 Menurut hemat penulis Presiden yang tepat sesuai dengan keinginan rakyat adalah Joko Widodo, namun Presiden yang tepat  sesuai dengan kebutuhan rakyat adalah Prabowo Subianto. Kedua capres ini  sama-sama memiliki nama yang sesuai dengan dialektika Jawa yakni “NOTONEGORO”, hal ini merupakan tonggak sejarah baru dalam Indonesia dimana pemilihan Presiden hanya diikuti dua pasangan calon presiden dan calon wakil presiden

0 komentar:

Posting Komentar

Reaksi

Labels

 
;