Jumat, 05 Oktober 2012 0 komentar

[Seharusnya] Metode Pengajaran, Bukan Materi Pelajaran



[Seharusnya] Metode Pengajaran, Bukan Materi Pelajaran
Ditulis oleh: Prof. Rhenald Kasali (Guru Besar FE UI)
Lima belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.
Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.
Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.
Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”
“Dari Indonesia,” jawab saya.
Dia pun tersenyum.
BUDAYA MENGHUKUM
Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.
“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak anaknya dididik di sini,” lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! ” Dia pun melanjutkan argumentasinya.
“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.
Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. KITA TIDAK DAPAT MENGUKUR PRESTASI ORANG LAIN MENURUT UKURAN KITA.
Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.
Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.
Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.
Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.
Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.
***
Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut saya sangat tidak manusiawi.
Mereka bukan melakukan ENCOURAGEMENT, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan.
Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.
Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.
Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.
Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”
Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.
Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.
MELAHIRKAN KEHEBATAN
Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya.
Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.
SEKOLAH yang membuat kita TIDAK NYAMAN mungkin telah membuat kita MENJADI LEBIH DISIPLIN. Namun di lain pihak dia juga bisa MEMATIKAN INISIATIF dan MENGENDURKAN SEMANGAT. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.
Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.
Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.
Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.
null
Rabu, 03 Oktober 2012 0 komentar
Anak pelopor bukan pengekor...
Anak perintis bukan pewaris....
Anak pengais bukan pengemis
anak penggerak bukan penggertak
anak yg berkarater bukan yang berkarat....
...
anak yang luar biasa bukan yang biasa diluar
anak yang beradab bukan yang biadab
anak yang taat bukan keparat
Susah gaakkkk? :) kayak y mudah

Senin, 01 Oktober 2012 0 komentar
Hari ini Hari senin, dimana semua orang, semua golongan, mulai kalangan pelajar yang terburu-buru karena takut telat upacara, para mahsiswa yang disibukkan kembali dengan tugas-tugas kuliahnya, atau para pegawai yang sibuk antri menunggu mobil jemputan dari kantor ataupun Transjogja yang makin melaju dengan cepatnya.....

Begiru pula diriku yang mencoba menyibukkan diri, semalam aku tidak tidur karena mementingkan nonton klub bola kesayangan "Real Madrid FC". Ba'da shubuh mata terasa ada yang mengganjal, memaksaku merebahkan badan ini, tak terasa waktu pun bergulir cepatnya menunjukkan pukul 08.30. Aku terbangun dari mimpi panjang, menuju kamar mandi kuguyurkan air ke seluruh tubuh ini, rasa segar terasa, setelah itu aku bergegas ke kamar untuk siap-siap ke perpustakaan karena ada janji dengan teman yang akan mengembalikan buku yang dipinjamnya...

Sms ku tak berbalas, telponku tak diangkat aku pun pergi ke Fathin, kucoba mencari buku Hukum PTUN tapi tak kudapat, akhirnya ku bergegas pulang ku rebahkan diri ini sambil tiduran aku bca buku MPPH........

tak terasa malam pun datang, tugas yang menumpuk pun mulai datang silih berganti tanpa memikirkan keadaan hati yang terkadang gundah, gelisah, galau kan teringat dirinya,, hingga terbawa dalam mimpi panjang........

Tiba-tiba kudengar kata-kata dari sebelah kost......

Kuliah-.... kuliah... kuliah
Buyarlah semua mimpi indahku akan tentangnya
Jujur saat ini aku merindukan sosokmu Bulan, malam ini aku berteman sepi, hangat rembulan dan cahaya bintang yang biasa menemaniku kini tak memunculkan sinarnya,  tak lagi kurasakan hangat sinarnya....

Kemana kamu pergi kasihku Bulan ?
Kenapa kau tinggalkanku dalam keadaan gundah gelisah...????

Minggu, 30 September 2012 0 komentar

Bulan & Bintang Part 2

Specially for My Star

Di setiap pertemuan, pasti ada perpisahan
dengan pertemuan  yang diridhoi..
harapan pun sebuah perpisahan yang diridhoi pula
segal kejadian pasti mengandung hikmah
Semoga Allah melindungi dan meridhoi setiap langkah Bintang

Inilah suratan takdir sang Penjaga Kehidupan
dan pasti inilah yang terbaik untuk Bintangku
Jika Bintang bersedih...
Lihatlah ke arah angkasa dalam sunyinya malam
Lalu lihatlah indah sinarnya rembulan......

Ungkapkan apa yang ada dalam hati
dan apa yang ada dalam pikiran Bintang
Dengan begitu Bulan kan memberimu  cahaya
agar Bintang dapat bangkit dari keterpurukkan itu....
Good Luck in your life....
Love u forever  my Star.....
                                     
Ruf’iyah Binti Hayatullah

0 komentar

Bulan & Bintang


­-----=Just for My Lovely star=-------
Berkelip kau tunjukkan keindahanmu
Ingatkanku atas kekuasaan-Nya
Temaniku di malam-malam yang sunyi
Buatku tersenyum, tertawa dan bahagia

Melindungi dengan kedamaian
Membuatku lupa akan tangisan
Membuatku lupa akan kesedihan
Dialah sosok Bintang dalam sunyinya malam

Namun kini engkau menghilang
jauh...... jauh dari pandanganku
Entah kemana harus Bulan mencari
Dirimu yang selalu ada disampingku

Wahai sang penakdir .......
Andaikan semua ini hanyalah mimpi
bangunkan aku dari tidur ini
yakinkan aku bahwa Bintang
kan selalu ada di setiap
malam-malam yang indah
menemani sang Rembulan.......

                               Ruf’iyah Binti Hayatullah

0 komentar

Renungan jiwa Part 2

Engkau mengajariku bagaimana mencintai dengan tulus
Mengantarkan aku menuju gerbang kebahagiaan
dan juga mengenalkan aku pada rasa sakit
Rasa sakit yang entah kapan akan berakhir..
ketika semuanya telah aku berikan
Apa kau menghargainya ???
ini adil buatmu tapi tidak buatku
Harusnya tidak kusandarkan kasih sayang ini untukmu...
Entahlah aku yang terlalu bodoh telah memilihmu
atau kau yang terlalu bodoh
telah menyianyiakan cinta yang tulus
Mungkin setiap kata cinta yang kau ucap itu bohong...
Tapi kenapa aku masih saja percaya
Aku benci diriku sendiri
Aku benci mencintai dirimu begitu tulus
Hingga aku lebih mementingkanmu
dibanding hal lain....................
dan mengapa aku tak jera
mengapa aku tetap mengharapkan segalanya darimu ???
Aku memang bodoh ..
Bantu aku melupakan..
Meluapakan apa yang telah kau tanam
Melupakan segalanya.......
Agar aku tenang dan dapat merasakan bahagia..
Apa kau bangga telah melukai hati kecil ini ???
hati kecil yang telah aku bingkai
Aku hanya ingin tersenyum
J (-_-)
Aku ingin tertawa bebas
Tanpa memikirkanmu, tanpa ada luka, tanpa ada gelisah sedikitpun di hati ini................


0 komentar

Ebiet G Ade


Ketika kubuka jendela kegetiran datang menyergap
Apakah karena hembusan angin bawa aroma rumput basah?
Gemuruh air hujan menumpas nyanyianku

tentang asmara yang sirna terkubur dalam dada
Aku kembali terduduk di atas kebekuan bara hati
Ketika 'ku berjalan sendiri menyusuri sungai berliku
Apakah langkah kubawa ke hulu ataukah ke muara?

Gemuruh suara hati menikam kebisuan
ketika cintaku kandas terkubur dalam jiwa
Aku kembali terduduk di atas kebekuan bara hati

Gemuruh air hujan menumpas nyanyianku
tentang asmara yang sirna terkubur dalam dada
Aku kembali terduduk di atas kebekuan bara hati
Oh, malam dengarkanlah syair dari nyanyianku

Barangkali akan dapat menolongku
Coba bawakan dia meski hanya lewat mimpi
Oh, kelam bicaralah,
demi semi cintaku
***

Labels

 
;